Fishery Skill Lab

Fishery Skill Lab

Manfaat dan Potensi Budidaya Maggot BSF

Budidaya Maggot dan Potensi Keuntungannya

Maggot / larva lalat Black Soldier Fly

      Sumedang, Fishery Skill Lab, Kata maggot bagi sebagian awan masih terdengar asing di telinga. Namun, ketika mendengar kata belatung mungkin sudah sering kita dengar dan lebih familiar karena bentuknya yang menggelikan dan membuat bulu kuduk merinding. Maggot atau dalam penyebutan lain disebut dengan belatung merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens dalam bahasa Latin. Seperti yang sudah disebutkan bahwa maggot merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan bermetamorfosis menjadi lalat dewasa. Tubuh maggot berwarna hitam dan sekilas mirip dengan tawon. Siapa sangka dibalik itu semua, maggot memiliki potensi untuk dibudidayakan. Bagi beberapa orang, budidaya maggot merupakan potensi yang menggiurkan untuk dikembangkan.

          Dengan mudahnya memperoleh maggot, budidaya maggot dapat dilakukan oleh siapapun. Potensi yang dapat dikembangkan cukup menggiurkan karena biayanya yang murah dan ramah lingkungan. Berikut ini beberapa potensi yang dapat diraup dari budidaya maggot yang mungkin belum Anda ketahui.

1. Maggot Mampu Menguraikan Sampah

     Sampah merupakan masalah serius yang membutuhkan penanganan khusus karena tidak mudah untuk mengurangi produksinya. Indonesia masuk dalam kategori negara yang menghasilkan sampah terbesar nomor 4 (empat) di dunia. Diperkirakan setiap tahun produksi sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton. 

         Tidak hanya dari perkotaan, tetapi juga dapat dihasilkan di daerah pedesaan. Permasalahan sampah organik menjadi salah satu yang masih sulit untuk diatasi. Ketersediaan tempat penampungan dan pengolahannya masih sulit untuk diatasi terutama pada lingkungan yang padat penduduk. Sering kita mendengar bencana banjir yang disebabkan karena tersumbatnya selokan atau saluran pembuangan air.  

        Permasalahan seperti ini biasa ditemui di beberapa kota besar. Pada perkembangannya, sebenarnya beberapa teknologi diciptakan untuk dapat menguraikan sampah, salah satunya adalah teknologi pengomposan dengan metode konvensional.

 

Metode ini menggunakan beberapa bahan kimia untuk menciptakan mikroba yang bertugas untuk menguraikan sampah. Akan tetapi, proses pengomposan memerlukan waktu yang cukup lama karena kemampuan mikroba tersebut dalam menguraikan tidak sebentar. Namun, siapa sangka budidaya maggot ternyata dapat membantu mengatasi permasalahan seputar sampah. Maggot hidup dengan cara memakan limbah organik. Kemampuan maggot dalam menguraikan terbilang cepat, dikarenakan maggot termasuk serangga yang cukup rakus dalam memakan makanannya sehingga cepat dalam menguraikan sampah organik. Dibandingkan dengan mikroba lain, maggot lebih cepat menguraikan sampah. Setelah menetas, maggot membutuhkan sampah organik sebagai makanan untuk bertahan hidup. Maggot bukanlah serangga jenis hama sehingga pengembangbiakannya untuk menguraikan limbah termasuk aktivitas yang ramah lingkungan.

 

        Produksi limbah terbesar dapat dikatakan berasal dari sektor pertanian dan perkebunan. Sebagai gambaran, satu ekor maggot memiliki kemampuan mengurai sebesar 25-500 mg dalam waktu satu hari, sementara  15 ribu maggot mampu menguraikan sampah sekitar 2 kg dalam kurun waktu 24 jam. Satu ekor induk lalat BSF mampu menghasilkan 400-800 telur sehingga dalam satu kali bertelur jumlah maggot yang akan didapatkan terbilang sangat banyak hanya untuk satu ekor induk saja. Dengan demikian, budidaya maggot yang diintegrasikan dengan sektor pertanian dan perkebunan tidak salah untuk dikembangkan dan dapat menguntungkan untuk semua pihak.

2. Maggot Dapat Dijadikan Pakan Ternak

    Dalam beternak, pakan merupakan hal yang tidak boleh untuk dilewatkan. Kualitas hewan ternak dapat ditentukan dari pemberian pakan yang baik. Agar ternak tumbuh dengan sehat dan berkualitas, pakan ternak yang diberikan juga harus berkualitas. Berbagai macam pakan ternak yang memiliki kualitas yang unggul dijual di pasaran. Salah satu yang menjadi unggulan sebagai pakan ternak merupakan hasil budidaya maggot yang dikembangkan oleh masyarakat.

        Maggot biasanya diberikan untuk beberapa hewan ternak seperti jenis unggas maupun untuk jenis ikan. Larva lalat BSF atau maggot merupakan pakan ternak yang bernilai unggul dikarenakan kandungan beberapa nutrisi dalam maggot baik untuk ternak.

 

Dalam tubuh maggot terkandung asam amino dan protein sebesar 40%. Zat-zat lain juga dapat ditemukan dalam maggot sehingga jenis pakan ternak ini akan semakin banyak penggemarnya. Disisi lain, penggunaan maggot sebagai pakan ternak dapat dikatakan memiliki banyak keunggulan.

  • Pertama, maggot merupakan hewan yang tidak berbau amis dan tidak membawa atau menularkan penyakit sehingga tidak akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan karena baunya.
  • Kedua, mudah dicerna oleh ternak karena berukuran kecil dan kandungan nutrisi yang unggul akan membuat ternak tumbuh dengan sehat dan bobot hewan tumbuh secara alami karena nutrisi yang dikonsumsinya.
  • Ketiga, budidaya maggot mudah untuk dilakukan dan tidak membutuhkan tempat yang luas sehingga mudah untuk didapatkan dan biaya budidaya tergolong murah. Terlebih waktu panen larva lalat ini cukup teratur dan jelas.

         Peternakan dengan skala besar tentu mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk pengadaan pakan ternak yang berkualitas. Dengan memanfaatkan maggot sebagai pakan ternak, biaya yang dikeluarkan dapat ditekan sehingga akan menambah keuntungan.

3. Pupuk dari Maggot

        Indonesia merupakan salah satu negara yang memanfaatkan sektor pertanian dalam pembangunan negara. Masyarakat banyak yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian. Dalam dunia pertanian, pupuk memegang peranan yang cukup penting. Untuk menghasilkan tanaman yang berkualitas baik, dibutuhkan pupuk yang mampu menunjang kesuburan tanah atau lahan. Namun, harga pupuk di pasaran terbilang cukup mahal. Apabila harga pupuk mahal, para petani tentu harus berpikir dua kali untuk membelinya. Dengan demikian, diperlukan pupuk alternatif yang mampu mengatasi persoalan ini. Pupuk alternatif ternyata dapat dihasilkan dari seekor hewan bernama maggot. Dengan memanfaatkan budidaya maggot yang dilakukan masyarakat, hal tersebut bisa digunakan untuk sektor pertanian.

       Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa maggot dapat menguraikan sampah organik dengan baik. Kemampuan ini yang membuat proses penguraian sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk organik untuk tanaman. Dengan memanfaatkan kasgot, pupuk organik dapat diperoleh. Adapun yang dimaksud dengan kasgot yaitu uraian atau sisa dari sampah yang dimakan hasil dari budidaya maggot. Kasgot inilah yang selanjutnya digunakan sebagai pupuk tanaman oleh para petani. Dalam kasgot terdapat beberapa unsur yang baik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan kualitas hasil tanaman.

         Pemanfaat Kasgot hasil budidaya maggot sebagai pupuk organik lebih aman untuk digunakan dalam pertanian bila dibandingkan dengan penggunaan pupuk sintetis yang banyak dijual. Unsur-unsur yang terdapat dalam kasgot dapat memperbaiki struktur tanah, baik itu struktur kimia, biologi, dan fisika sehingga membuat menyeimbangkan tanah dan dapat menyuburkan. Sedangkan pada pupuk sintetis, unsur-unsur kimia yang ada di dalamnya ternyata tidak dapat diserap dengan sempurna oleh tanaman. Sisa unsur yang tidak diserap ini akan menempel pada tanah sehingga membuat tanah menjadi keras karena sifatnya mirip dengan lem apabila terkena air yang menyebabkan tanah menjadi lengket dan tidak subur. Tanah juga akan berubah menjadi asam karena unsur kimia tersebut. Hal ini memicu beberapa hewan yang hidup di tanah terkena dampaknya dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kepunahan.

          Penggunaan pupuk sintetis secara berkepanjangan berdampak pula untuk manusia. Unsur-unsur kimia yang terbawa air hasil dari penggunaan pupuk sintetis yang apabila sampai dikonsumsi oleh manusia tentu akan menyebabkan permasalahan kesehatan yang serius dan fatal karena bukan porsinya untuk dikonsumsi.

           Dengan memanfaatkan budidaya maggot sebagai penghasil pupuk organik ternyata dapat membantu para petani dalam menghasilkan tanaman yang berkualitas untuk dikonsumsi dan turut menjaga lingkungan dari bahaya pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk sintetis. Budidaya maggot penghasil kasgot untuk menghasilkan pupuk organik masih sedikit yang menyadarinya. Maka dari itu, perlu adanya pengembangan agar masyarakat mulai beralih menggunakan pupuk organik dibandingkan dengan pupuk sintetis yang berbahaya.

Potensi Ikan Hias Guppy

Potensi Ekspor Ikan Hias Jenis Guppy

Potensi Ekspor Ikan Hias Jenis Guppy

 

Pada tahun 2019, Provinsi Yogyakarta secara perdana mengekspor sebnyak 1,2 juta ekor benih ikan hias jenis Guppy ke Filipina.

Menurut pemaparan Rina, selaku Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Bahwasanya dulu tidak ada nama Yogyakarta di sektor ekspor benih ikan, karena dulu dikirim ke pasal lokal seperti Surabaya dan Jakarta. Tetapi saat ini Yogyakarta sudah bisa Ekspor sendiri.

Rina berpendapat bahwa Potensi ekspor ikan hias air tawar cukup menjanjikan, termasuk dari DIY.  Ditinjau dari lalu lintas ikan Yogyakarta yang didominasi oleh benih-benih ikan konsumsi air tawar. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan untuk ekspor ikan hias air tawar dapat ditingkatkan, terutama ke negara tujuan ekspor. Seperti  Eropa, Amerika Serikat, Singapura, dan Timur Tengah.

Rina menuturkan bahwa selama ini ikan hias paling banyak berasal dari Bali, Jakarta, dan Bandung. Yogyakarta memanfaatkan peluang ekspor  ikan hias ini untuk ikut andil dalam pasar ekspor ikan hias.

 

Produksi Ikan Hias Yogyakarta mencapai satu juta ekor per tahun.

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Bayu Mukti Sasongka menyebutkan, produksi ikan hias di DIY rata-rata mencapai satu juta ekor per tahun yang di antaranya mencakup ikan guppy, plati, koi, dan arwana. Sedangkan daerah yang paling banyak melakukan budidaya ikan hias yaitu Kabupaten Sleman.

 

Indonesian Guppy Popularized Association (IGPA) sebagai salah satu komunitas ikan guppy terbesar di Indonesia optimistis Indonesia mampu menjadi barometer produksi ikan guppy dunia. Ketua IGPA, Sahlan Rosyidi menyebut, hal ini mengingat potensi kekayaan lingkungan di Indonesia sangat mendukung untuk pembudidayaan ikan guppy.

 

“Potensi Indonesia sangat besar secara nilai keekonomian dalam pasar Ikan guppy dunia.  nilai jual untuk satu pasang ikan guppy di pasar dunia yaitu USD100, nilai keekonomian ikan guppy nasional mampu mencapai Rp162 miliar dalam 6 bulan,” jelas Sahlan.

 

Artikel ini sudah terbit dalam judul :
Ikan Guppy, Potensi Besar Ekspor Ikan Hias Air Tawar
Budidaya Ikan Hias

Potensi Budidaya Ikan Hias di Masa Pandemi

Di tengah pandemic seperti ini, memelihara ikan hias menjadi pilihan yang tepat bagi banyak kalangan.  Ikan hias terbukti secara ilmiah dapat menurunkan perasaan jenuh akibat work form home dan pembatasan aktivitas dari kebijakan pemerintah.

 

Budidaya Ikan Hias menjadi pilihan masyarakat dalam memulai bisnis usaha karena memiliki peluang usaha yang besar. Maraknya bisnis ikan hias oleh berbagai kalangan masyarakat ini berdampak pada meningkatnya produksi ikan hias nasional. Pada tahun 2017 dari 1,19 milyar ekor menjadi 1,22 milyar ekor. Di tahun 2018 tumbuh menjadi 1,28 milyar ekor  dan pada tahun 2019 dengan nilai mencapai Rp. 19.81 milyar .

Sebagaimana penyataan dari Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya. Bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong sektor usaha produktif. Seperti budidaya ikan hias karena telah terbukti dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya.

 

“Seperti kita ketahui bersama, pandemi Covid 19 telah menekan berbagai sektor usaha. Namun juga membuka berbagai peluang usaha baru bagi sebagian orang. Bisnis ikan hias termasuk peluang usaha baru yang banyak dilirik oleh masyarakat karena menjanjikan keuntungan yang besar apabila ditekuni”

“KKP memanfaatkan kemajuan teknologi dalam melaksanakan pelatihan dan webinar secara online.  Guna meningkatkan pengetahuan pelaku usaha budidaya mengenai teknik budidaya hingga model bisnis mulai dari pemula hingga professional” lanjutnya.

 

Komoditas Unggulan Ikan Hias

 

Slamet memaparkan bahwa budidaya ikan hias layak untuk dijadikan komoditas unggulan dalam budidaya karena memiliki berbagai keunggulan. Penggunaan sistem budidaya yang cocok dilahan sempit dan nilai jual lebih tinggi jika dibandingkan dengan ikan konsumsi. Serta perputaran uang yang lebih cepat dalam usaha sehingga pelaku usaha dapat lebih cepat dalam pengembalian modal.

“Guna mendukung peningkatan industri ikan hias nasional, selain terus melakukan program diseminasi melalui webinar dan pelatihan, kami juga melakukan koordinasi dengan asosiasi serta pelaku usaha ikan hias untuk dapat mensinkronkan program dengan pemerintah” ucap Slamet.

 

“Selain mendorong dari sisi produksi, hal lain yang perlu didorong ialah pengembangan varian ikan hias yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain turut meningkatkan pendapatan, ke depan hal ini juga akan turut mendongkrak nilai ekspor nasional, terutama untuk komoditas andalan ekspor seperti arwana, koi, cupang, gapi dan manvis” tambah Slamet.

 

Menurut Slamet, Ikan hias memiliki berbagai manfaat seperti penangkal stress dan memberikan keuntungan ekonomis. Hal ini menjadi penting dalam masa pandemi Covid-19 karena dapat turut menjaga imunitas dan semangat masyarakat dalam menghadapi situasi seperti sekarang.

Slamet juga memaparkan terdapat beberapa jenis ikan hias yang menanjak penjualannya selama masa pandemi. Seperti ikan cupang, ikan guppy dan ikan koi. Jenis ikan tersebut dapat memberikan keuntungan fantastis. “Dengan optimalisasi budidaya ikan hias bernilai ekonomi tinggi, dapat memberikan lapangan kerja baru melalui peningkatan pendapatan dan nilai tambah di masyarakat” tandas Slamet.

 

Artikel ini telah terbit dalam judul: 
KKP : BUDIDAYA IKAN HIAS TINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT DI TENGAH PANDEMI
Keranjang Belanja
Scroll to Top